Cerita dalam sebuah perjalanan
Kisah ini aku tulis di status FB. Di status terdapat 4 status tulisan ini. Kucoba gabungkan menjadi satu. Tulisan 8th lalu. Pulang dari Panumbangan. Sendiri, kesorean. Setelah sekian taun. Ternyata aku sendiri heran. "Ko bisa ya nulis demikian." ๐
Pamokolan.
Mentari masih gagah mengarahkan cahyanya tepat ke wajahku. Bangku yang terbuat dari bambu dan kayu-kayu bekas setia menemani penunggu-penunggu resah sepertiku. Mana dong mobil yang akan ku tumpangangi? Hm.. Hari semakin sore. Aku bersama dia-- saudaraku yang diamanati menunggu aku disini sampai mobil itu datang. Jarang pembicaraan antara kami. Hanya sesekali bicara, saat aku tanya dia jawab. Kemudian hening lagi. Dia sibuk dengan hp dan sebatang rokok menemaninya, begitu pula aku yang ikut-ikutan memainkan hp, ditemani permen karet yang kukunyah, sesekali ku tiup.
"Jam 5 gak ada, balik lagi aja! Nginep." Katanya memecah kebisuan.
"Pasti ada kok." jawabku meski belum ada kepastian.
Kini matahari mulai turun, perlahan menuju kaki cakrawala, meninggalkan aku yang masih menunggu kepastian.
Pulang.
Akhirnya yang ku tunggu datang. Tak sia-sia mengejar nasib, memperbaiki keadaan. Kutanya Si Abang sopir "sampe Sindangkasih bang?" aku hanya dapat anggukan dari Si Abang yang cuek, khusu bersama lagu lawas yang diputar dengan kencang menemaninya. Tak lama Si Abang berhenti, kemudian maju lagi. Gruung.. suara mobil membelah angin dihadapannya. Semoga penumpangnya banyak, gumamku dalam benak.
Dan Alhamdulillah, penumpangpun bertambah, bahkan dua bapak yang tadi bareng juga ada. Suprise! Si Bapaknya juga sampe terkaget-kaget. Dunia yang tak seluas daun kelor ini mempertemukan kembali kami. Aku hanya tersenyum.
Senud, senud, berulang mobil seperti tersendat. Semoga tak terjadi apa-apa. "Mungkin regulatornya bocor, Pir" salah satu si Bapak menebak-nebak.
"Mungkin iya Pak," si sopir meng-iyakan.
Tapi kuda besi itu masih melaju, kencang dan semakin kencang, mengejar mentari yang tak lama lagi meninggalkanku.
Masa Alloh (ala si Dona) macet lagi. "Pulanglah kasih, pulang sayang, siang malam aku berdo'a hanya untukmu." Lagu yang sedari tadi menemani. Si Abang lagi menghafal kali ya? Hm..
Si Abang akhirnya menjalankan kembali, mesin berderu meninggalkan macet yang tak kunjung usai. Tapi kuda besi bapak polisi sepertinya menghentikan tekadnya, dan membiarkan mobilnya kembali melaju pelan di belakang mobil yang lain. Penyebab dari macet itu sendiri karena jembatan yang menghubungkan jalur angkot ini mengalami kerusakan. Banyaknya kendaraan dari dua arah yang melintas mengakibatkan antrean panjang.
Macet terlewati, jalan lancar kembali. Lagu lawas yang sedari tadi mendominasi, sesekali tak terdengar karena klakson yang terus di tekan. Te to to et, te to to et, te to to et, yang kadang kadang terdengar dung deng deng dung, dung deng deng dung. Haha.
Mentari terus temani aku, jangan tinggalkan aku bersama gelap. Ku mohon.
Matahari pergi. Kuda besi kini berganti. Masih beroda empat, tapi rodanya gak bulet kali ya? Soalnya ko dari tadi gerebag gerubug terus.
Lampu-lampu mulai dinyalakan. Seluruh kota terang benderang. Siluet lembayung jingga bersama kejora mulai tampak kembali. Mesjid-mesjid terlihat berisi beberapa baris manusia menjalankan kewajibannya. Tiga rokaat.
POM BENSIN IMBANAGARA.
Ko lama ngisi bensinnya?
Ku buka jendela, keluarkan kepala, tengok kiri kanan, eh ada si bapak kenek liatin. Masukin lagi deh kepalanya. Hihi
Kuda besi akhirnya kembali melaju. Dan masih gurubag-gurubug ditambah ancul-anculan. Kebut dong! Jangan seperti penyu.
Sayang, aku hanya menuliskan sampai di POM imbanagara. Engga ada kisah kelanjutannya lagi.
Hai aku, terimakasih sudah menulis. ๐
Komentar
Posting Komentar