Random
Lama, senja-senja tak lagi ku tuliskan indahnya.
Meski warnanya selalu seperti itu... Namun, setiap senja selalu memiliki makna yang berbeda.
Senja... Jingaa... Yang pernah mewarna lirikku dalam merangkai sebuah kata.
Boleh jadi, imajinasiku tidak lagi seperti dulu. Dulu, dalam langkah-langkah penantian, aku rajin merangkai kalimat untuk sebuah penemuan. Entah menemukan jodoh kehidupan, atau menemukan diriku yang liar tak terhindarkan.
Setelah episode-episode mengulang hari di dinding yang sama, bersama orang yang sama, kata-kata perlahan entah kemana. Ia yang dulu menemaniku membungkus sunyi, menyaksikan pagi, menatap biru langit kota juga menatap senja... Menguap, ataukah ia hanyut terbawa hujan-hujan yang menyadarkan lamunan? Entahlah.
Adakalanya aku merindu. Diri yang gemar merangkai rasa pada pena-pena. Pun, kadang aku rindu, pada kata-kata yang menari di kepala. Memenuhi relung. Meratap menjadi doa. Terucap menjadi puisi. Atau— tertulis menjadi hal yang indah untuk dikenang. Oh, aku pernah sepuitis itu, meski dulu.
Aku kadang tak tau, bagaimana cara memulai menulis kembali kisah-kisah yang boleh jadi membuatku bahagia. Pun adakalanya membuatku menangis teriris pilu. Meski, lahapan berbagai tulisan telah kucoba selesaikan membacanya.
Mungkin semua telah berubah. Walau, menghadirkan aku yang dulu, bukan juga perkara yang susah. Memulainya yang boleh jadi tak mudah. Tapi, bukan berarti tak bisa, bukan? Ingin jadi seorang penulis? Apakah masih tertaut dalam mimpi-mimpi yang tertinggal bersama kenyataan yang lebih sering memilukan?
Tak apa. Sungguh tak apa. Episode kehidupan ini, memang perlu kita lalui. Boleh jadi, inilah yang akan membuat kita menjadi diri yang lebih kuat. Terimakasih sudah berjuang sejauh ini, diriku tersayang.
Komentar
Posting Komentar